Sejarah Edamame (Si Hijau dengan Sejuta Manfaat)

Sejarah Edamame (Si Hijau dengan Sejuta Manfaat)

Edamame (mao dou dalam bahasa China) tercatat sebagai tanaman yang dibudidayakan di China pada tahun 200 sebelum masehi, sebagai tanaman obat dan bahkan saat ini masih popular sebagai tanaman obat. Meskipun edamame dikenal di China sejak dahulu, edamame baru dipasarkan di Jepang (dikenal sebagai aomame) di Engishiki pada tahun 972 sesudah masehi. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antar negara pada abad ke-19, menyebabkan tanaman ini juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di pulau Jawa, kemudian berkembang ke pulau-pulau lainnya

Jepang adalah produsen komersial edamame terbesar, menghasilkan hampir 105.000 ton pada 1988, selain itu Jepang juga merupakan importir edamame terbesar, memasukkan hampir 33.000 ton pada 1989. Hampir semua orang Jepang mengonsumsi edamame segar selama musim panas. Edamame dikenal dengan berbagai nama di Amerika Utara. Umumnya dikena sebagai vegetable soybean, atau beer bean, edible soybean, fresh green soybean, gardem soybean, green soybean, green – mature soybean, green vegetable soybean, immature soybean, large – seeded soybean, dan nama Jepangnya ialah Edamame.

Tanaman kedelai edamame (Glycine Mas) termasuk dalam Divisio Spermatophyta, Subdivisio Angiospermae, Clas Dicotylodoneae, Subclas Archihlamydae, Ordo Rosales, Subordo Leguminosinae, Famili Leguminoseae, Subfamilia Papiolionaceae serta Genus Glycine. Keunggulan kedelai edamame diantaranya memiliki cita rasa yang manis, polong berukuran besar, dan berumur genjah yaitu 50 – 60 hari setelah tanam. Beberapa varietas diantaranya ialah varietas Ocumani (OC), Ryokku (RK), Tsuromidori (TR) dan Taiso (TS).

Bagikan

Komentar(0)

Tulis komentar